Wednesday, February 4, 2009

Hidup di perkebunan - ngerumpi!

Hidup di perkebunan tidak selalu indah. Yang pasti ada rasa jenuh. Tiap bangun pagi kita memandang keluar jendela, yang nampak adalah pohon-pohon kelapa sawit. Apalagi para staff dan keluarga tinggal di kompleks perumahan yang sama, dimana kita lihat setiap hari orang-orang yang sama. Itu juga bisa menimbulkan kejenuhan.
Para suami sibuk bekerja. Terus, apa yang dilakukan para istri? Apalagi kalau bukan ngerumpi! Tapi eittttt, tunggu dulu. Bayangkan kalau tidak ada kegiatan di rumah. Mau mengerjakan pekerjaan rumah tangga, ada si Inem yang dibayar oleh perusahaan. Rugi dong kalau tidak dimanfaatkan. Terus mau ngapain? Ada orang yang mempunyai berbagai hobby, dia betah di rumah seharian, seperti menonton acara TV yang bermutu, membaca buku dan majalah, main Computer dll. Semua hobby itu bisa mengikat kita di rumah. Tapi suatu saat timbul juga rasa jenuh, akhirnya mencari pelarian : ngerumpi!
Makanya kalau tidak punya hobby yang bermanfaat, ya bisa gawat. Karena hobby itu bisa membuat kita menambah wawasan dan menjaga pikiran kita tetap segar. Makanya ada orang yang nggak punya hobby sama sekali, dan aku tidak habis pikir melihat orang seperti itu.
Aku bisa betah seharian di rumah. Dalam arti kalau jadwal mengajarku dimulai jam 18.00. Banyak sekali yang bisa kulakukan, selain internetan (setiap hari aku harus online selama 4 jam untuk keperluan pekerjaanku), aku juga banyak membaca, kebanyakan dalam bahasa Jerman. Itu disambung lagi pada tengah malam. Walaupun aku sudah ngantuk, aku tidak bisa tidur kalau tidak membaca. Maka sebelum tidur, aku sediakan waktu membaca selama 30 menit. Aku pasang kaset musik, jadi kalau side A sudah habis, aku berhenti membaca. Tapi kasetnya kulanjutkan ke side B, sebagai pengantar tidurku.Saat ini yang kudengarkan tiap malam sebagai pengantar tidurku adalah "Il Divo". Wah romantis banget! Itu tentunya kulakukan karena nggak ada suami di samping. Kalau dia ada, aku tidak perlu membaca, karena dia bisa membuatku tidur ......heheheheh. Kadang, untuk menghabiskan waktu di rumah aku juga menonton TV, tetapi acara-acara seperti Oprah di Metro, di Starworld Ellen Degeneres, Friends. Itu kalau di pagi hari. Jadi dengan begitu saja waktu sudah habis. Maka aku tidak punya waktu untuk bersosialisasi. Karena lebih banyak menyakitkan. Lebih baik membatasi diri agar terhindar dari sakit hati.
Nah, waktu masih di perkebunan, aku belum punya pekerjaan. Jadi walaupun ada hobby, tapi tidak seimbang, makanya kadang-kadang pelarian : ngerumpi!
Ngerumpi itu sah-sah saja, asalkan dalam porsi yang cukup dan benar. Bisa jadi menambah wawasan dan bisa belajar dari pengalaman orang lain.
Tetapi kebanyakan ngerumpi itu tidak sehat. Masing-masing mulai menceritakan kemesraan suami istri di rumah. Ada istri yang mendapati bahwa ternyata suaminya tidak mesra kepada dirinya, setelah mendengar kemesraan orang lain. Saat suaminya pulang makan siang, nah si istri mulai menyatakan ketidakpuasannya kepada suaminya. Padahal suaminya mungkin sebelumnya dimarahi oleh atasannya dan masih menghadapi atasanya kemudian sore di kantor.
Ada juga membanding-bandingkan apa yang dimlikinya dari segi materi dan secara tidak langsung menyindir orang lain yang dianggapnya tidak memiliki apa-apa. Contohnya kebun kelapa sawit, padahal yang dimiliki hanya 3-4 ha. Padahal tidak semua orang hobby atau bakat memiliki kelapa sawit. Masih banyak investasi yang juga menguntungkan, kan? Misalnya tanah atau ansuransi, ataupun ivestasi yang lain. Mempunyai pekerjaan itu juga investasi yang menghasilkan uang.
Nah, suami pulang kantor mulai ngomel deh soal keuangan. Yang membuat suami makin pusing dan akhirnya menimbulkan pertengakaran.
Seharusnya sudah sewajarnya perusahaan mengadakan kegiatan yang positif untuk ibu-ibu yang tinggal di kebun. Yang dapat memberikan penyuluhan kepada karyawan tentang kesehatan dan kebersihan.Kegiatan itu akan menambah wawasan dan ilmu bagi para ibu-ibu yang tinggal di kebun. Dan juga akan merubah pola pikir, sehingga ibu-ibu bisa ngerumpi dengan sehat. Atau ada pendapat lain?

Kehidupan di perkebunan membuat manja

Hidup di suatu perkebunan banyak suka dukanya. Aku ingin menceritakan tentang kenyamanan hidup di perkebunan. Pertama kita disediakan rumah dinas yang sederhana, dibandingkan perkebunan lain. Tidak perlu bayar sewa rumah, tidak perlu bayar listrik dan air. Juga disediakan perabot lengkap, walaupun sudah 15 tahun tidak diganti. Kalau ada bola lampu yang rusak, tinggal lapor ke kantor, tidak berapa lama kemudian datang seorang karyawan membawa bola lampu dan memasangnya. Kalau ada pintu yang rusak, juga tinggal lapor.
Kalau kehabisan uang kontan, ada koperasi dimana kita bisa menngutang beras, minyak dsb. Kalau perlu uang, ada koperasi simpan pinjam. Kalau perlu mendadak,bisa pinjam di kantor. Kalau mau ke kota, ada disediakan transportasi mini bus. Kalau mau karaoke, ada ruang khusus untuk karaoke.
Itu semuanya menyenangkan dan membuat kita terlena. Maka ketika harus tinggal di luar kebun, kita akhirnya menyadari bahwa kita tidak punya apa-apa! Selama sekian tahun ternyata kita telah dimanjakan oleh perusahaan. Fasilitas banyak sehingga gaji terasa besar. Setelah tinggal di luar kebun, ternyata gaji itu tidak seberapa. Kalau kita bandingkan dengan guru SMA, secara finansial kita satu level dengan mereka. Padahal namannya posisi staff di perkebunan.
Di luar kebun, kita harus menghadapi kenyataan bahwa kita harus membayar sewa rumah, air dan listrik dan perabotan. Kita seharusnya layak membeli itu semua dari penghasilan kita. Kenyataannya tidak, karena kita sering harus meminjam uang ke saudara untuk memenuhi keperluan itu dengan janji akan dikembalikan pada saat bonus di akhir tahun. Selanjutnya, bonus itu hampr habis untuk membayar pinjaman. Berarti tidak dapat bonus dong .....Inilah gambaran secara umum tentang hidup di perkebunan.
Bagaimana menurut Anda suatu perusahaan perkebunan memenuhi kesejahteraan karyawannya?

Sunday, February 1, 2009

Bencana membawa berkat


Pada hari Rabu, tgl 28 Januari 2009, adalah hari yang mengejutkan bagi kami. Pada siang hari suamiku menelepon dan bertanya apakah aku siap menerima berita baru. Aku bilang siap. Karena aku tahu pasti bahwa ini menyangkut pekerjaannya dan kalau soal ini tidak ada lagi yang bisa membuatku terkejut. Soalnya, selama 1,5 tahun terakhir ini, kami sudah sangat sering mendapat "kejutan" dari perusahaan. Kejutan itu selalu berupa : jantung berdebar-debar, hati tak tenang, pikiran buntu, pesimis,merasa tak berharga dan tidak ada gairah kerja. Ketika suamiku mengatakan bahwa dia akan dimutasi ke kantor pusat Jakarta, aku melompat-lompat kegirangan. Wah, kali ini kejutannya beda ya? Aku langsung bilang ke suamiku bahwa aku mau ikut pindah ke Jakarta. Suamiku bilang dia dapat SK mutasi dengan alasan "arealnya kotor" plus bonus peringatan terakhir. Padahal peringatan pertama dan kedua tidak pernah dia terima. Memang sangat mengecewakan. SK itu seperti suatu stempel yang mengatakan : hey lihat, aku ini nggak becus kerja! Rumah aja bisa kotor, apalagi areal kebun.
Tetapi semakin sering kami membicarakan mutasi ini, kami semakin senang. Suamiku bilang sudah bosan tinggal di kebun, kurang informasi dan wawasan tidak bertambah. Suamiku semakin bersemangat karena Sabtu nggak kerja, jadi setiap Sabtu dia mau full untuk bisnis. Dan yang paling indah, dia bisa melayani Tuhan di gereja. Itu kerinduannya sejak lama, ingin aktiv melayani di gereja. Tetapi sejak di kebun Sumatra Selatan dia sama sekali tidak bisa melayani. Dan bonusnya adalah, kami bisa bersatu lagi, dan tidak terpisah. Jadi 3 hal positif yang bisa didapatnya dengan mutasi ini : bisnis, melayani Tuhan dan kumpul dengan keluarga. Kami yakin dan percaya ini semuanya rencana Tuhan. Dan rencana Tuhan itu selalu indah.
Sejak kabar mutasi ini merebak, berbagai macam tanggapan yang kami dapat, dari rekan-rekan kerja, teman-teman dan saudara-saudara. Ada yang malah membuat kami patah semangat dengan mengatakan hal-hal yang tidak enak yang akan kami dapatkan di kantor pusat Jakarta! Sabar .....sabar ....Ada yang emosi dan mengatakan harus kami tempuh jalur hukum sambil menceritakan kasus-kasus yang lebih berat yang dapat dimenangkan .....aduh tidaklah, kami juga belum tahu hak-hak apa yang kami dapatkan nanti dari perusahaan .....ada juga yang bertanya-tanya tapi nadanya seperti tidak senang .....cemburu kali dan mungkin mereka yang berharap bisa tinggal di Jakarta .....ada juga yang mengatakan dengan nada mengasihani : sabar ya ....ini semua rencana Tuhan .....memangnya kami kenapa, kami bahkan sukacita mau pindah ke Jakarta ....dan paling banyak memberikan dukungan ....nah ini yang kami paling suka. Ada yang bahkan mengucapkan selamat ...heheheh .....banyak yang mengatakan : bu, pasti berhasil di Jakarta, soalnya ibu kan lincah, nggak bisa diam, kutu loncat dan dan dan ....itu semua membuat kami bersemangat. Kata-kata yang positif membuat kami semakin bergairah.
Kini, rasa sukacita mematikan rasa kecewa. Karena suka cita kami terlalu besar. Setiap hari aku dan suamiku bertelepon, kami membahas ide-ide baru, mematangkan rencana-rencana, dan semakin lama kami semakin tidak sabar untuk tinggal di Jakarta. Karena sungguh banyak peluang bisnis yang mau kami coba jalankan nanti. Kami berharap, rencana-rencana kami adalah juga rencana Tuhan.
Kami tidak mempermasalahkan mutasi itu lagi. Malah kalau boleh kami berkata : terimakasih Tuhan untuk mutasi itu. Terimakasih perusahaan ....
Kami belum tahu bagaimana ke depannya nanti. Apa jabatan suamiku di Jakarta nanti kami belum tahu. Apa yang akan diperolehnya nanti kami juga belum tahu.Mungkin dia akan dijatuhkan sampai titik terendah. Semuanya kami serahkan pada Tuhan Yesus. Dia yang tahu apa yang terbaik bagi kami. Pada awalnya pasti kami akan merasakan hal-hal berat, tetapi itu adalah jalan untuk menadapatkan berkat yang lebih besar. Sekarang, apakah kami akan tahan uji?

Sunday, January 25, 2009

Pekerjaanku sebagai tourist guide 1985-1991 Sumatra Utara

Pada tahun ke-2 aku kuliah di Fakultas Sastra, Jurusan Pariwisata, Universitas Sumatra Utara, Medan, salah seorang dosenku mengajak aku berkerja sebagai tourist guide. Kebetulan beliau adalah Manager di suatu travel. Beliau mengajakku karena aku bisa menguasai bahasa Jerman. Jadilah aku menjadi guide khusus untuk tamu berbahasa Jerman dari Jerman, Austria dan Swiss.
Bekerja sebagai guide sangat menyenangkan. Tetapi guide harus dibedakan. Ada guide untuk tamu Asia dan ada guide untuk tamu Eropa atau tamu bule. Kalau tamu Asia tidak terlalu senang mendengar penjelasan yang rumit, seperti misalnya tentang politik, ekonomi, sejarah, flora dan fauna dan kehidupan sosial Indonesia. Yang penting makanan enak, bisa shopping, bisa foto-foto dan guidenya lucu. Aku pernah sekali membawa 1 rombongan ibu-ibu dari Jakarta. Setelah itu aku minta ampun tidak mau bawa lagi. Mereka memintaku menceritakan jokes, sementara aku tidak terbiasa. Mereka juga memintaku bernyanyi di bus, dan bila suaraku fals, mereka semakin heboh dan tepung tangan. Yang penting ada yang bisa ditertawakan.
Beda dengan turis bule. Mereka ingin tahu semuanya tentang Indonesia. Beberapa hari sebelum guiding aku selalu mempersiapkan diri dengan banyak membaca tentang Indonesia. Karena mereka juga begitu di negaranya sebelum datang ke Indonesia, sudah membeli dan membaca buku tentang Indonesia. Jadi guide untuk tamu bule harus mempunyai wawasan dan dapat diajak tamu berdiskusi. Guide itu adalah duta bangsa yang membawa nama baik Indonesia. Kalau melihat guide membawa tamu bule, orang akan tahu guide itu tidak bodoh.
Kekuatanku dalam guiding ialah, aku dapat memahami watak tamu bule dan apa yang mereka inginkan. Itu kelebihan bila pernah tinggal di negara bule. Terus dapat berdiskusi dengan mereka. Jadi kita tidak sekedar memberikan informasi, tetapi dapat mendiskusikan informasi itu.
Bekerja sebagai guide menambah wawasan, karena dari tamu-tamu aku juga bisa belajar. Pekerjaan ini membuka pergaulan internasional, dapat mengenal berbagai manusia dengan berbagai karakter, bisa keluar masuk hotel, makanan selalu enak, dan jalan-jalan gratis plus dapat honor dan tip yang lumayan besar. Sungguh pekerjaan yang luar biasa. Aku bahkan pernah 2 x mengunjungi ex-tamuku di Jerman, yaitu Karlheinz dan Hilke Eckardt.
Mengenai makanan, jangan dikira guide itu senang selalu makan enak di hotel dan restoran. Pada hari ke-3 sudah mulai bosan. Makanya kalau menginap di hotel di Pulau Samosir, aku sering meminta ikan teri atau ikan asin ke dapur.
Aku bekerja sebagai guide selama 6 tahun, kemudian aku berhenti karena aku hamil anak pertama. Aku mulai guiding lagi di Kalimantan Timur mulai Juli 2008 (setelah 17 tahun vakum!). Selain itu bisa menjadi sumber penghasilan yang tidak sedikit. Saat ini, aku satu-satunya guide berbahasa Jerman di Kalimantan Timur. Sebelumnya mereka mendatangkan guide Jerman dari Makassar.
Akhirnya memang aku lebih banyak bolosnya daripada kuliah. Soalnya aku lebih banyak menghabiskan waktu untuk bekerja daripada kuliah.Sudah keenakan mencari uang, apalagi aku adalah tipe pekerja. Aku mengambil program D-3. Akhirnya pada tahun ke-4, aku diultimatum, kalau mau tamat harus segera menyelesaikan mata kuliah yang tertinggal. Materi pelajaran mudah bagiku karena aku memang bekerja di bidang Pariwisata. Aku sudah lebih banyak praktek daripada teori. Akhirnya aku memang lulus. Aku diwisuda tetapi ijazah tidak kuambil sampai sekarang. Dulu aku merasa nggak perlu, soalnya nggak ada ijazah pun aku 'laris manis'. Malah aku sempat pindah-pindah travel karena aku dilamar dan bukan aku yang melamar. Semua itu karena pengetahuan bahasa Jermanku. Aku memang sedang mau mengurus agar ijazahku keluar. Pernah seorang Sarjana di lingkunganku menyebarkan berita bahwa aku hanya tamat SMU, hanya karena dia tahu aku belum mempunyai izajah. Padahal foto-foto wisudaku di auditorium USU lengkap lho ... Tapi kubiarkan saja. Terlalu kecil untuk kujadikan menjadi perkasa besar.Siapa sih lo .....???

Di bawah ini aku bersama Hilke Eckardt (kiri), seorang turis dari Jerman. Aku di sebelah kanan. Kami sedang berada di Pasar Buah, Berastagi, Sumatra Utara. Saat itu tahun 1987, ketika aku belum menikah. Aku sangat ingat, karena di kemudian hari Hilke dan suaminya Karl-Heinz menjadi teman dekatku. Alu bahkan sudah 2 kali mengunjungi mereka di Benningen, suatu daerah yang indah di dekat Stuttgart di Jerman. Sampai sekarang kami masih berhubungan melalui E-mail.

Di bawah ini foto-foto bersama turis di Berastagi, Sumatra Utara.



Di Rumah Bolon Pematang Raya Simalungun


Bersama rombongan turis di kebun cokelat di jalur jalan Tebing Tingi - Pematang Siantar (Sumatra Utara).

Menyeberang jalan di Jalan Merdeka Pematang Siantar menuju Pajak Horas.


Stop terakhir sebelum Parapat adalah di Botanical Garden. Disana dapat dilihat tanaman atau pohon eksotis yang tidak ada di Eropa. Tentu saja sangat menarik bagi mereka. Apalagi bila pemiliknya memanjat pohon aren dan mengambil air nira untuk dicicipi turis, seperti foto di atas.


Di Parapat dengan latar belakang Danau Toba


Biasanya kami menginap selama 2 malam di Danau Toba. Kami mengadakan full day tour ke Tomok, Ambarita dan Simanindo. Kemudian makan siang di Pulau Tao yang terpencil dan sepi. Dalam menjalani tour ini kami naik boat yang besar, seperti diatas.
Bila memulai tour di danau Toba selalu dimulai dengan mengunjungi desa Tomok. Biasanya kami menginap di Parapat di Hotel Parapat, di Hotel Danau Toba International atau di Danau Toba Cottage. Kalau di Samosir biasanya di Hotel Silintong, di Hotel Toledo atau di Toba Beach. Kalau soal menjalani hotel-hotel di Sumatra Utara sudah puaslah. Yang dikunjungi di desa Tomok adalah makam Raja Sidabutar. Pada foto-foto di bawah ini aku sedang memberikan penjelasan mengenai Raja Sidabutar kepada turis Jerman. Tentu saja dalam bahasa Jerman. Waktu itu Pariwisata Sumatra Utara sedang booming. Sangat banyak turis yag datang dari berbagai negara. Dari Eropa, yang paling banyak adalah dari Jerman dan Belanda.




Salah satu objek wisata yang kami kunjungi di Pulau Samosir adalah Desa Ambarita, yang berjarak sekitar 10 km dari Desa Tomok. Di Ambarita terdapat tempat duduk dari batu yang dulunya digunakan penduduk desa untuk rapat. Di desa itu juga ada tempat dulunya tawanan dari desa lain dihukum. Ceritanya sih demi kepentingan kekuatan roh orang Batak, tawanan tersebut dipancung kepalanya dan kemudian ada beberapa organ tertentu tawanan tersebut dimakan demi kekuatan roh mereka. Aku selalu bilang ke turisku : hati-hati loh, aku ini keturunan mereka .......(orang Batak)


Aku memberikan informasi kepada turis di desa Ambarita.












Pada malam terakhir di Danau Toba, selalu ada hiburan untuk tamu yang kubawa, bila jumlah mereka di atas 10 orang. Yang tampil adalah sebuah Vocal Group yang menyanyikan lagu-lagu Batak. Sebelum setiap lagu dinyanyikan, aku harus selalu menterjemahkan lebih dulu ke dalam bahasa Jerman arti lagu itu. Maka seperti diataslah bila aku tampil sebagai MC.Dan juga kita diundang makan malam oleh tamu, seperti diatas bersama tamu dari Swiss di Hotel Parapat, Parapat.

Bila program tournya selama 8 hari/7 malam, maka pasti ada program ke Bukit Lawang untuk melihat Pusat Rehabilitasi Orang Utan disana. Tour ini melelahkan. Dari Hotel (biasanya Hotel Dharma Deli Medan) berangkat pukul 4 pagi. Malam sebelumnya aku sudah memesan Lunchbox ke pihak hotel untuk dibawa ke Bukit Lawang, soalnya disana tidak ada tempat yang layak untuk makan. Disini kami hendak naik sampan untuk menyeberang.Aku duduk diatas sampan di bagian tengah. Kelihatan nggak aku ketakutan?

Untuk mencapai Pusat Rehabilitasi Orang Utan harus naik sampan melalui Sungai Bohorok. Kemudian naik bukit setinggi 300 m. Dulu waktu gadis stamina masih oke. Tetapi aku tidak bisa berenang. Makanya aku selalu ketakutan kalau menyeberangi sungai ini.Aku paling kiri di atas sampan.

Mengantar turis ke bandara Polonia, Medan, Sumatra Utara pada tahun 1985. Sebagai guide, apalagi guide untuk turis Eropa, kita harus mengerti budaya mereka. Selama beberapa hari atau selama seminggu tour bersama turis, tentu saja hubungan menjadi dekat. Karena guide bersama tamu seharian. Kalau aku mengantar mereka ke bandara, biasanya turis pria selalu memelukku dan mengucapkan terimakasih. Itu bukan suatu hal yang aneh, karena dilakukan di depan istri mereka. Bagi mereka itu adalah tanda persahabatan. Seperti foto diatas bersama 2 turis pria, itu adalah hal yang sangat wajar.

Mengantar tamu ke bandara Polonia, Medan.


Mulai kuliah ....pintu menuju pergaulan international

Selesai sekolah, aku ingin sekali kuliah bahasa Jerman. Karena aku merasa aku berbakat belajar bahasa asing. Aku tidak mau memaksakan diri memilih suatu bidang study dimana aku mendapatkan gelar tetapi kemudian hari tidak bisa kumanfaatkan, alias jadi ibu rumahtangga aja. Karena aku type pekerja keras. Menurutku, kalau mempelajari bahasa asing sangat banyak peluang kerja.
Maka aku memilih bidang study Sastra Jerman di IKIP Medan, dan aku tidak lulus! Aku sangat jengkel! Nggak ngerti aku sistem pendidikan di Indonesia ini! Kalau kita ikut tes untuk mengambil bidang study bahasa Jerman, seharusnya yang diuji itu kemampuannya dalam bidang bahasa asing! Masa sih yang diuji Matematika???? Belum tentu yang jago Matematika itu berbakat dalam bidang bahasa. Kalau dia mau ambil bidang study Teknik, ya ujilah dia di bidang IPA. Makanya kita sampai sekarang susah maju. Terlalu banyak aturan, tapi hasilnya apa? Aku heran, para petinggi kita banyak lulusan luar negeri. Masa sih mereka nggak bisa ambil yang positifnya dan terapkan di Indonesia???
Aku dapat info bahwa di USU (Universitas Sumatra Utara) ada program extension, yaitu program study D-3 yang diadakan sore hari, dan di bawah naungan USU. Katanya disana ada bidang study bahasa Inggris. Karena bagiku yang penting aku ingin kuliah bahasa asing.
Maka aku pergi ke sana untuk mendaftar. Ketika aku antri di loket pandaftaran, aku melihat loket lain yaitu Sastra Jepang dan Pariwisata. Wah, Pariwisata bidang yang menarik juga dan wajib menguasai bahasa asing. Aku berpikir, Pariwisata ini malah lebih bagus lagi. Aku bisa bekerja di hotel sekalian mempraktekkan bahasa Jerman-ku. Tanpa pikir panjang aku pindah loket dan mendaftar di jurusan Pariwisata. Kemudian ada tes dan aku lulus. Awalnya aku tidak memberitahukan orangtuaku, karena menurutku aku sendiri yang tahu apa yang terbaik bagiku. Yang sesuai dengan kata hatiku, dan bukan kata hati orangtuaku. Ibuku nggak setuju, maka setahun kemudian ibuku menyuruhku ikut tes untuk mengambil bidang study Kedokteran Gigi. Aku bilang ke ibuku aku nggak lulus padahal aku tidak ikut tes.
Selama masa sekolah, aku sudah muak ditanyain terus sama teman2 bagaimana kehidupan dan sekolah di Jerman. Karena setiap orang yang kukenal bertanya maka aku juga sudah muak untuk menjelaskan. Bosan menceritakan yang itu-itu aja! Maka memulai masa kuliah aku tidak mau siapapun tahu bahwa aku pernah tinggal di Jerman. Aku mengaku seorang perantau dari Tarutung. Memang benar kok, orangtuaku kan masih tinggal di Tarutung.
Karena penampilanku dan aku anak kos, ya orang percaya aja aku nggak pernah kemana-mana. Makanya juga pergaulanku terbatas dengan anak-anak kos aja. Selama setahun keadaan berjalan begitu saja. Pada semester ke-3, aku memilih jurusan Tour & Travel karena bekerja di hotel kurang banyak tantangan, alias di hotel aja. Jadi pada semester ke-3 masuk seorang dosen baru, nama beliau Bapak Hazed Djoeli. Beliau manager Biro Perjalanan Nitour pada saat itu. Waktu pertama kali masuk, beliau membawa setumpuk pekejaan. Bukannya langsung belajar, tetapi beliau duduk di barisan paling belakang dan meminta kami satu-satu maju ke depan memperkenalkan diri, dan menceritakan mulai SD – SMA sekolah dimana. Itu mengada-ada, tetapi beliau butuh waktu untuk mengerjakan pekerjaannya maka kami diminta melakukan sesuatu yang konyol seperti itu.
Okay, aku bertekad akan menceritakan bahwa mulai SD aku di Tarutung. Tetapi ketika aku berdiri di depan dan memandang semua teman-teman kuliah, dan Pak Hazed Djoeli, aku tidak mampu untuk berbohong. Aku menceritakan bahwa aku menyelesaikan SD dan SMP di Jerman dan SMA di Medan. Teman-teman kuliahku mulai cekikikan dan bisik-bisik. Aku tahu mereka tidak percaya. Melihat penampilanku sehari-hari siapa juga yang percaya bahwa aku pernah tinggal di Jerman. Mereka berpikir kalau pernah tinggal di luar negeri akan bergaya glamour. Wah, salah besar. Malah sebaliknya, soalnya di Jerman sehari-hari mereka tidak glamour. Jadi teman-temanku berpikir bahwa aku bercanda. Aku sempat juga merasa tersinggung. Tetapi Pak Hazed Djoeli justru menghentikan perkerjaannya dan meminta padaku untuk berbicara beberapa kalimat bahasa Jerman. Dan aku melakukannya. Semua di ruang kuliah terdiam memandangku. Pak Hazed bilang agar aku menjumpainya setelah kuliah selesai.
Beliau menawariku bekerja sebagai guide bahasa Jerman. Kata beliau, guide bahasa Jerman lulusan dalam negeri banyak tetapi lulusan luar negeri sangat sedikit. Maka mulailan teman-teman kuliah memperhitungkan aku. Pergaulanku meningkat. Aku berteman dengan teman-teman dari kelompok yang punya.
Di kemudian hari aku memang kuliah sambil bekerja sebagai guide. Pekerjaan yang sangat menyenangkan. Dimana kita bisa jalan-jalan gratis, mengenal berbagai karakter manusia dari Jerman, Austria dan Swiss. Dan ....dapat honnor yang lumayan pula.

Tinggal di asrama Katolik? Aku tidak kehilangan akal …..


Aku dimasukkan ke asrama Katolik Jalan Hayam Wuruk Medan. Itu pas kenaikan kelas 2 SMA. Rasanya memang aku mau dikurung disini, soalnya benar-benar seperti penjara. Sekolah dan asrama berada dalam satu kompleks, jadi tidak bisa keluar kemana-mana tanpa izin.
Melihat bangunan asrama Katolik dari depan aja sudah seram. Bangunannya model bangunan Belanda. Di samping asrama adalah gereja Katolik. Peraturan disana sangat ketat. Pada hari Sabtu/Minggu tidak boleh keluar, kecuali ada keluarga atau saudara yang menjemput. Aku berpikir, aku tidak akan bisa keluar akhir pekan dari sini karena orangtuaku di Tarutung. Saudaraku yang tinggal di Medan? Apakah akan ada yang mau menjemputku? Sekali dua kali memang ada, tapi setelah itu tidak lagi.
Asrama ini adalah asrama putri dan ada 3 kelompok tinggal disini. Kelompok yang punya, yang menengah dan yang dari kampung karena dibiayai gereja Katolik dan karena mereka Katolik. Asrama ini termasuk mahal maka tidak semua ‘beruntung’ bisa masuk kesini.
Peraturannya sangat ketat! Bangun pagi jam 5, terus mandi. Pukul 6 ada 2 pilihan kegiatan, belajar di ruang belajar yang besar dimana seorang suster dari atas podium mengawasi dengan ketat. Pilihan lainnya ialah pergi ikut misa ke gereja. Bagi yang tidak ada kesadaran belajar, tentu saja dia akan pergi ikut misa, meskipun dia bukan Katolik. Karena lebih nyaman duduk di gereja tanpa berpikir, daripada belajar. Sayangnya .....aku termasuk kelompok yang ‚sangat tertarik’ ikut misa. Tapi kami tidak selalu masuk gereja. kadang-kadang kami lari keluar gerbang gereja dan pergi ke Sekolah Nasrani untuk makan bihun goreng.
Makanan di asrama sama sekali tidak enak! Setiap kali makan, di atas piring sudah ada lauk pauknya, dan ditutup dengan piring yang lain. Dan kita sudah tahu apa menu untuk hari apa, karena menunya itu-itu juga. Yang parah adalah bila ada daging ayam. Tentu aja kalau daging ayam nggak bisa pilih-pilih. Jadi kami selalu berebut yang pertama masuk ke ruang makan yang besar (bisa muat 100 orang) dan mengintip setiap piring mencari bagian ayam yang disukai. Kalau dapat, cepat2 ditukar. Soalnya, setiap orang punya bangku masing-masing dan makanan sudah dibagikan langsung di meja masing-masing.
Disini semua harus mencuci dan menyeterika baju sendiri. Tapi awas kalau lupa mengambil pakaian dari jemuran. Besok pagi sebelum sarapan, beberapa suster masuk ke dalam ruang makan, membawa pakaian yang ketinggalan semalaman di jemuran. Lalu mereka akan bertanya, pakaian itu milik siapa? Si pemilik akan berdiri penuh ketakutan, kemudian kepala suster akan melemparkan salah satu celana dalam ke wajah si empunya, dari jarak 5 meter. Bayangkan dipermalukan seperti itu di depan hampir 100 orang anak perempuan.
Pulang sekolah, langsung makan, baru ganti baju. Setelah itu tidur siang. Jam 15.30 sudah harus berada di ruang belajar. Jam 17.00 s/d jam 18.30 istirahat. Jam 18.30 makan malam. Lalu istirahat lagi. Jam 19.30 masuk ruang belajar sampai jam 21.00. Setelah belajar masuk ke ruang makan, antri untuk mendapatkan teh manis panas, warnanya merah jambu dan pelit gula. Jam 22.00 semua lampu harus dimatikan.
Aku sama sekali tidak suka segala aturan itu. Aku sama sekali tidak suka diatur seperti itu. Suatu saat pada sore hari, gerbang sekolah terbuka, karena ada kegiatan di sekolah. Aku segera berlari keluar ke tukang rujak yang jualan di depan sekolah. Aku membeli rujak, padahal sebenarnya dilarang jajan. Pada saat aku membeli rujak, tiba-tiba datang seorang suster yang sangat judes dan bicaranya kasar dan dia menghampiriku. Dia menyuruhku masuk ke pelataran sekolah, dan mengajakku duduk di sebuah bangku. Dia memaksaku memakan rujak pedas itu sampai habis dalam 10 menit! Setelah itu, dia menyuruhku menyapu pekarangan asrama yang menghadap ke jalan besar. Itu semuanya sebagai hukuman!
Aku stres tinggal di asrama. Bayangkan, sangat jarang melihat dunia luar asrama! Pada suatu saat aku sakit dan aku dijemput ompungku ke rumahnya di Medan. Aku disuruh pergi berobat ke dokter umum yang ada di dekat rumah ompung. Dokter itu baik sekali. Aku menceritakan penderitaanku di asrama. Aku meninta tolong padanya untuk menulis di resep bahwa aku tidak cocok tinggal di asrama, makanya sakit. Dan dia memang menuliskannya! Itulah tiketku keluar dari asrama. Karena kemudian orangtuaku memindahkan aku ke rumah ompungku. Aku tetap sekolah di SMA Katolik itu, tapi aku tinggal di luar. Aku sering memandang kasihan kepada beberapa teman yang pulang sekolah langsung masuk asrama. Tetapi kini kusadari bahwa memang disiplin di asrama itu baik. Aku menyesal karena tidak betah disana. Hampir semua yang pernah tinggal disana berhasil dalam pendidikan atau pekerjaan.

Thursday, January 22, 2009

Kembali ke Indonesia ....


Ketika aku berusia 16,5 tahun, kami harus kembali ke Indonesia. Rasanya sangat menyedihkan karena sebenarnya aku tidak mau pulang. Apa boleh buat, masa kerja bapak di Jerman telah selesai. Pulang ke Indonesia, kami bukannya ditempatkan di kota, melainkan di Tarutung, Tapanuli Utara. Tarutung tidak dapat disebut kota, tetapi desa juga tidak. Pokoknya jauh sekali perbedaannya, dari kota besar di Jerman ke kota kecil bernama Tarutung.
Menyesuaikan diri di Indonesia jauh lebih berat daripada menyesuaikan diri di Jerman. Pertama, rapor sekolah kami dari Jerman tidak diakui! Bayangkan, tidak diakui! Padahal kita jelas semua tahu, pendidikan di Jerman itu lebih baik daripada di Indonesia, apalagi kalau dibandingkan dengan Tarutung. Aku dianggap tidak pernah sekolah!Padahal rapor sekolah kami telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan telah dilegalisir, dan ditandatangani oleh Duta Besar Indonesia di Jerman. Tapi tidak diakui juga. Aku terpaksa harus mengikuti ujian Persamaan SD dan SMP, bersama orang-orang yang tidak lulus SD. Rasanya menyedihkan.
Karena kami hanya bisa sedikit berbahasa Indonesia, terpaksa kami les Bahasa Indonesia! Disamping itu kami diminta les Sejarah dan PPKN, takut rasa nasionalisme kami telah memudar. Pokoknya menyebalkan!
Karena tidak punya ijazah SD dan SMP (karena dari Jerman tidak diakui), aku tidak bisa masuk SMA Negeri. Aku terpaksa sekolah di SMA HKBP Tarutung, sebuah sekolah swasta.
Jangan dikira karena baru pulang dari Jerman, akan diistimewakan. Sama sekali tidak demikian! Malah sangat susah menyesuaikan diri. Terutama di sekolah. Di sekolah ada pelajaran bahasa Jerman. Bagiku pelajaran bahasa Jerman itu seperti pelajaran bahasa Jerman untuk anak SD. Maka aku sangat bosan. Kalau ada ulangan, aku kasih jawabannya ke teman-teman. Akhirnya kalau ulangan, aku diminta keluar kelas dan menyelesaikan ujian di taman sekolah. Aku bisa merasakan kebencian ibu guru bahasa Jerman itu terhadapku. Wajahnya masam terus kalau melihatku. Dia takut, karena aku lebih pintar dalam bahasa Jerman daripada dia.
Aku pernah terlambat datang ke sekolah. Kepalaku langsung dipukul pake gagang sapu. Jelas aku sangat kaget! Di Jerman, guru bahkan tidak boleh mecubit murid.
Terus, sebelum memulai pelajaran dan sebelum pulang sekolah, setiap murid secara bergantian diminta ke depan kelas untuk memimpin doa. Tibalah giliranku. Aku tahunya berdoa hanya dalam bahasa Jerman aja. Dan ketika aku berdoa, semua di kelas tertawa. Aku merasa disepelekan.
Puncaknya ketika pelajaran bahasa Inggris, pelajaran yang sangat kusukai. Kalau di Jerman, murid-murid berlomba untuk menjawab pertanyaan guru. Soalnya sudah dididik seperti itu, berani untuk menjawab. Kalau di Indonesia kan lain. Kalau guru bertanya, semua murid pura-pura menundukkan kepala, atau sibuk buka-buka buku. Nah, begitu juga pada kelas bahasa Inggris. Ibu guru bertanya dan semua menunduk, tidak ada yang bisa menjawab. Hanya aku yang tunjuk tangan, tapi tidak digubris oleh ibu guru. Entah kenapa, sejak awal ibu bahasa Inggris ini tidak menyukaiku. Aku tunjuk tangan tidak digubris. Dia bertanya ke murid lain, tapi nggak bisa dijawab. Aku menganggap dia menyepelekan aku. Dan hal seperti itu tidak boleh terjadi di kelas sekolah di Jerman. Maka aku terus saja tunjuk tangan, dan untuk mencari perhatiannya, aku menjetikkan jari-jariku sampai mengeluarkan bunyi. Ibu guru tiba-tiba melotot kepadaku sambil berkata : "Hey, saya bukan anjing!". Dan dia segera keluar kelas. Lho, aku heran, ada apa? Tidak lama kemudian aku dipanggil ke ruangan Kepala Sekolah. Ternyata ibu itu mengadukan aku langsung ke Kepala Sekolah. Aku dimarahi habis-habisan, dituduh menghina guru. Aku tidak bisa membela diri, bukan karena takut. Tapi karena kaget, soalnya aku tidak pernah diperlakukan seperti itu di Jerman. Akhirnya bapak memang datang ke sekolah dan meminta pengertian sekolah terhadapku yang perlu waktu untuk menyesuaikan diri. Dan itu tidak mudah ..... sama sekali tidak mudah ....